Di sebuah desa kecil di Jepang yang dikelilingi pegunungan hijau dan sungai yang jernih, hiduplah sepasang kakek dan nenek. Mereka hidup sederhana dan bahagia, meskipun diam-diam sering merasa sedih karena tidak memiliki anak.
Suatu hari yang cerah, nenek pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Air sungai mengalir jernih, dan burung-burung bernyanyi merdu. Saat sedang asyik mencuci, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang besar mengapung di sungai.
Nenek: "Astaga! Apa itu? Sepertinya... sebuah buah persik raksasa!"
Dengan penuh rasa ingin tahu, nenek menarik buah persik itu ke tepian sungai dan membawanya pulang. Ia sangat senang dan berpikir kakek pasti akan terkejut.
Ketika kakek pulang dari ladang dan melihat persik raksasa itu, ia pun terheran-heran.
Kakek: "Wah, nenek! Dari mana kau menemukan persik sebesar ini?" Nenek: "Aku menemukannya mengapung di sungai. Sepertinya ini hadiah dari para dewa. Mari kita potong dan lihat isinya."
Saat mereka membelah persik itu, alangkah terkejutnya mereka! Dari dalam persik keluar seorang bayi laki-laki yang sehat dan tersenyum manis.
Momotaro: "Halo, Ayah... Ibu..."
Kakek dan nenek sangat terharu. Mereka menganggap anak itu sebagai anugerah dan memberinya nama Momotaro, yang berarti "Anak Persik." Sejak saat itu, mereka merawat Momotaro dengan penuh cinta.
Tahun demi tahun berlalu. Momotaro tumbuh menjadi anak yang kuat, baik hati, dan berani. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa ada sekelompok Oni (iblis raksasa) yang tinggal di Pulau Oni. Mereka sering menyerang desa-desa dan mencuri harta benda.
Momotaro: "Ayah, Ibu, aku ingin pergi ke Pulau Oni dan mengalahkan para Oni! Aku tidak bisa membiarkan mereka terus menyakiti orang-orang."
Kakek dan nenek terkejut mendengar niat Momotaro. Meski khawatir, mereka tahu anak mereka pemberani.
Nenek: "Baiklah, Momotaro. Tapi bawalah bekal ini. Aku membuat kibi dango (kue millet) spesial untukmu. Berbagilah dengan teman yang kau temui di perjalanan."
Momotaro: "Terima kasih, Ibu! Aku akan pulang dengan kemenangan!"
Dalam perjalanan menuju Pulau Oni, Momotaro bertemu dengan seekor anjing.
Anjing: "Hei, anak persik! Ke mana kau pergi?" Momotaro: "Aku akan ke Pulau Oni untuk mengalahkan para iblis." Anjing: "Kalau kau memberiku kibi dango, aku akan ikut membantumu!"
Momotaro tersenyum dan memberinya satu kue. Anjing pun bergabung dengannya. Tak lama kemudian, mereka bertemu seekor monyet.
Monyet: "Hai, anak persik! Kau mau ke mana?" Momotaro: "Aku akan melawan para Oni di Pulau Oni." Monyet: "Kalau begitu, berikan aku kibi dango, dan aku akan ikut!"
Momotaro dengan senang hati berbagi kue, dan monyet pun bergabung. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seekor burung pegar.
Burung Pegar: "Ke mana kau pergi, anak persik?" Momotaro: "Aku akan melawan Oni di Pulau Oni!" Burung Pegar: "Berikan aku kibi dango, dan aku akan terbang membantumu."
Momotaro memberikan kue terakhirnya, dan burung pegar ikut bergabung. Kini mereka berempat melanjutkan perjalanan.
Setelah berhari-hari, mereka tiba di Pulau Oni. Benteng besar para iblis menjulang di tebing. Burung pegar terbang mendahului dan mengintai.
Burung Pegar: "Momotaro, para Oni sedang pesta di dalam! Aku akan mengalihkan perhatian mereka dari udara."
Momotaro: "Bagus sekali! Anjing, monyet, ayo kita serang!"
Pertarungan sengit pun dimulai. Burung pegar menyambar mata para Oni dari udara, membuat mereka kacau. Anjing berlari menggigit kaki Oni yang besar, sementara monyet melompat-lompat lincah mengganggu mereka.
Momotaro sendiri bertarung dengan pemimpin Oni, yang jauh lebih besar dan lebih kuat. Namun Momotaro tidak gentar.
Pemimpin Oni: "Berani sekali kau melawan kami, bocah persik! Kau akan menyesal!"
Momotaro: "Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti orang-orang lagi!"
Dengan kekuatan luar biasa, Momotaro mengalahkan pemimpin Oni. Oni-oni lainnya ketakutan dan menyerah. Mereka berjanji tidak akan mengganggu desa lagi.
Momotaro: "Kalau begitu, kembalikan semua harta yang kalian curi!"
Para Oni segera menyerahkan semua barang curian. Momotaro dan teman-temannya pulang dengan kemenangan besar. Setibanya di desa, orang-orang bersorak menyambut mereka.
Kakek dan nenek meneteskan air mata bahagia.
Nenek: "Momotaro, kau benar-benar pahlawan!" Kakek: "Kami bangga padamu, anakku."
Momotaro: "Aku hanya bisa menang karena teman-temanku membantuku. Bersama-sama, kita lebih kuat!"
Akhirnya, desa kembali damai dan makmur. Momotaro, kakek, nenek, dan semua penduduk hidup bahagia. Anjing, monyet, dan burung pegar pun menjadi sahabat setia Momotaro selamanya.
TAMAT