Perlombaan Kura-Kura dan Kelinci

Di jantung Hutan Maharaja yang selalu riuh oleh kicau burung, hiduplah dua penghuni yang reputasinya saling bertolak belakang.

Yang pertama adalah Geni, si kelinci berbulu seputih awan dengan sepasang kaki belakang yang tampak seperti pegas baja. Geni tidak sekadar berlari; ia melesat seperti kilat yang membelah rimbunnya semak-semak. Saking cepatnya, angin yang ditinggalkannya sering kali membuat daun-daun kering beterbangan. Sayangnya, kecepatannya berbanding lurus dengan kesombongannya.

Yang kedua adalah Bumi, si kura-kura tua berwajah teduh dengan tempurung seberat batu kali. Setiap kali Bumi melangkah, bunyinya terdengar ritmis: greeek... sreeet... lambat, namun pasti. Bumi adalah perwujudan dari ketenangan; ia tipe hewan yang akan menyapa setiap semut yang berpapasan dengannya.

Tantangan di Sela Kabut Pagi

Suatu pagi yang berkabut, Geni sedang pamer kecepatan dengan melakukan sprint zig-zag di depan hewan-hewan lain. Di ujung jalur, Bumi sedang asyik mengunyah selembar daun talas muda dengan sangat pelan.

"Awas, Bumi! Minggir! Remku bisa blong kalau melihat makhluk selambat kamu!" seru Geni sambil mengerem mendadak, menciptakan kepulan debu tepat di depan wajah Bumi.

Bumi terbatuk kecil, mengibas debu dengan kakinya yang pendek, lalu tersenyum. "Selamat pagi, Geni. Energi-mu luar biasa sekali pagi ini."

Geni berkacak pinggang, telinganya tegak berdiri. "Tentu saja! Hei, Bumi, aku bosan dipuji oleh tupai dan rusa. Bagaimana kalau kita bertaruh? Aku menantangmu balapan dari sini sampai ke Pohon Beringin Kembar di ujung hutan. Yang kalah harus menggendong yang menang keliling hutan!"

Hewan-hewan lain berbisik cemas. Itu tantangan yang tidak masuk akal. Jaraknya hampir dua kilometer! Namun, Bumi justru meletakkan sisa daun talasnya, menatap Geni dengan mata tuanya yang bijak.

"Tantangan diterima, Geni. Mari kita lihat, siapa yang akan menikmati angin di bawah Pohon Beringin Kembar lebih dulu."

Start! Dan Tawa yang Meremehkan

Keesokan harinya, suasana hutan pecah oleh sorak-sorai. Burung Pipit bertindak sebagai juri, bertengger di atas dahan pohon sambil membawa sehelai daun merah.

"Satu... dua... TIGA!"

Wuuush! Geni melesat bak anak panah lepas dari busurnya. Dalam sekejap, ia sudah menjadi titik putih kecil di kejauhan, lalu menghilang di balik tikungan bukit.

Bagaimana dengan Bumi? Greeek... sreeet... Ia baru memajukan kaki kanannya sejauh sepuluh sentimeter. Beberapa hewan menghela napas kasihan, namun Bumi tetap fokus menatap jalan berbatu di depannya. Kepalanya berirama, matanya tak berkedip dari jalur.

 

Hanya butuh waktu lima menit bagi Geni untuk mencapai separuh jalan. Ia tiba di Padang Semanggi yang harum. Napasnya bahkan belum memburu.

Geni menengok ke belakang. Kosong. Hanya ada capung yang beterbangan.

"Ah, ini konyol," kekeh Geni sambil memetik sebatang rumput manis dan mengunyahnya. "Bahkan jika aku berjalan mundur dengan satu kaki, kura-kura tua itu baru akan sampai di sini besok sore."

Matahari mulai naik, memancarkan kehangatan yang menggoda di padang rumput itu. Angin bertiup sepoi-sepoi, membelai bulu lembut Geni. Di bawah pohon ek yang rindang, terdapat hamparan lumut yang tampak lebih empuk daripada kasur raja.

"Tidur siang lima menit tidak akan mengubah hasil," gumam Geni. Ia merebahkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di belakang kepala, dan dalam hitungan detik, dengkurannya sudah bersahut-shutan dengan suara jangkrik.

Detik-Detik yang Menegangkan

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.

Matahari kini tepat berada di atas kepala. Sementara Geni tenggelam dalam mimpi indahnya tentang tumpukan wortel, sebuah bayangan perlahan mendekat.

Greeek... sreeet... greeek... sreeet...

Itu Bumi. Tempurungnya sudah basah oleh keringat. Kakinya terasa pegal luar biasa, dan dadanya kembang kempis menghirup udara siang yang panas. Namun, pandangannya lurus ke depan. Saat melewati Geni yang sedang mendengkur, Bumi tidak berhenti untuk mengejek. Ia bahkan tidak menengok. Ia hanya terus melangkah, selangkah demi selangkah, melewati tubuh si kelinci.

Satu jam kemudian, garis finis yang dijaga oleh ratusan hewan sudah terlihat. Pohon Beringin Kembar tinggal beberapa puluh meter lagi. Hewan-hewan mulai berbisik heboh, "Lihat! Itu Bumi! Bumi sudah mau sampai!"

Sorakan penonton yang bergemuruh itu gawatnya terdengar sampai ke Padang Semanggi.

Kepanikan Sang Juara

Duar! Geni tersentak bangun. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat ke langit—matahari sudah mulai condong ke barat!

"Gawat! Jam berapa ini?!"

Geni buru-buru melihat ke jalur balap. Kosong. Ia tersenyum lega, "Bagus, si lambat itu belum lewat." Namun, saat ia menoleh ke arah depan, ke arah garis finis... wajah Geni mendadak pucat pasi.

Di kejauhan, sebuah tempurung hijau tua tampak tinggal berjarak tiga langkah dari garis finis!

"TIDAAAK!!" teriak Geni histeris.

Geni melompat tinggi dan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada di kaki belakangnya. Ia berlari secepat yang ia bisa, bahkan lebih cepat dari badai. Debu tebal beterbangan di belakangnya. Jaraknya memendek dengan cepat: lima puluh meter... tiga puluh meter... sepuluh meter! Geni menjulurkan tangannya ke depan, mencoba menggapai garis finis.

Namun, segalanya sudah terlambat.

Tap. Kaki depan Bumi menyentuh garis merah tepat semikron detik sebelum Geni melompat melewatinya.

"Pemenangnya adalah... BUMI!" teriak Burung Pipit.

Hutan itu pecah oleh sorak-sorai yang memekakkan telinga. Tupai berloncatan, gajah menyemburkan air dari belalainya, dan monyet-monyet memukul batang pohon kegirangan.

Pelajaran di Bawah Beringin

Geni terjatuh di atas tanah, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan hebat. Bukan karena lelah, tetapi karena rasa malu yang teramat sangat menekan dadanya. Air mata penyesalan mulai menggenang di sudut matanya.

Bumi berjalan mendekat, lalu dengan lembut menyodorkan selembar daun besar berisi air embun murni yang ia temukan di jalan tadi.

"Minumlah, Geni. Kamu pasti lelah setelah berlari sekencang itu," kata Bumi tanpa nada mengejek sedikit pun.

Geni menerima daun itu dengan tangan gemetar. "Aku... aku minta maaf, Bumi. Aku meremehkanmu. Aku kehilangan fokus karena kesombonganku sendiri. Sesuai perjanjian, aku akan menggendongmu."

Bumi tertawa terkekeh, suara tawanya terdengar hangat. "Tidak perlu menggendongku, Sahabatku. Tempurungku ini terlalu berat untuk punggungmu yang lincah. Kemenangan ini bukan untuk menghukummu, tapi untuk mengingatkan kita berdua."

Bumi menepuk bahu Geni dengan kaki pendeknya.

"Bakat yang luar biasa akan menjadi sia-sia jika dibungkus oleh kesombongan dan kemalasan. Sebaliknya, langkah yang kecil dan lambat, jika dilakukan dengan konsistensi dan fokus, bisa menembus gunung tertinggi sekalipun."

Geni tertunduk, meresapi setiap kata-kata itu. Sejak hari itu, Hutan Maharaja tidak lagi mendengar ejekan dari mulut Geni. Sang kelinci tetap menjadi yang tercepat, namun kini, ia berlari dengan kerendahan hati—sering kali mendampingi Bumi berjalan sore, menyesuaikan langkah cepatnya dengan ritme lambat sang sahabat sejati.

by karya yudi official 46x view